Cirebon, 12 Desember 2025 — Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berpartisipasi aktif dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema Islam dan Budaya di Era Digital yang diselenggarakan bersama Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Siber Lantai 4 dan menjadi forum akademik penting dalam memperkuat dialog keilmuan lintas institusi.
FGD tersebut dihadiri oleh pimpinan fakultas, dosen, peneliti, serta mahasiswa dari kedua perguruan tinggi. Turut hadir Ketua dan Sekretaris Jurusan dari seluruh program studi di lingkungan FUA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, termasuk Jurusan Ilmu Hadis. Kehadiran unsur pimpinan jurusan ini memperkaya diskusi sekaligus mempertegas peran strategis program studi dalam merespons perkembangan keilmuan Islam di era digital.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. H. Anwar Sanusi, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa transformasi digital telah mengubah lanskap kajian keislaman secara signifikan. Menurutnya, kajian Ushuluddin dan Adab tidak hanya dituntut untuk menjaga kedalaman akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. “Era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi pengembangan ilmu-ilmu keislaman,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dr. Masykur, S.Ag., M.Hum., menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan akademisi. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab dalam memproduksi dan menyebarkan pengetahuan keislaman yang moderat, kritis, dan mudah diakses oleh masyarakat melalui media digital.
Ketua Jurusan Ilmu Hadis FUA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, [Nama Kajur], menyampaikan bahwa FGD ini menjadi ruang refleksi penting bagi pengembangan studi hadis di tengah pesatnya arus digitalisasi. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung riset dan pembelajaran hadis, seperti digitalisasi kitab-kitab klasik, pemanfaatan basis data hadis daring, hingga penguatan metodologi kritik sanad dan matan di era kecerdasan buatan. “Namun demikian, pemanfaatan teknologi harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip keilmuan yang ketat agar otoritas hadis tetap terjaga,” tegasnya.
Diskusi FGD juga membahas integrasi kajian tafsir, hadis, filsafat Islam, tasawuf, dan studi budaya dalam konteks budaya digital. Isu-isu kontemporer seperti tantangan hoaks keagamaan, etika bermedia, serta peran akademisi dalam ruang digital turut menjadi perhatian para peserta.
Selain diskusi keilmuan, FUA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memaparkan berbagai inovasi digital pendukung layanan akademik dan tata kelola fakultas, di antaranya sistem ujian berbasis daring, aplikasi persuratan elektronik, hingga platform layanan internal fakultas. Inovasi ini dipandang sebagai langkah konkret dalam mewujudkan tata kelola akademik yang efektif dan transparan.
Kegiatan FGD ditutup dengan komitmen untuk menjalin kerja sama lanjutan antara kedua fakultas, khususnya dalam bidang penelitian kolaboratif, publikasi ilmiah, dan pengembangan kurikulum berbasis teknologi. Melalui keikutsertaan Jurusan Ilmu Hadis, FUA UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kajian hadis yang adaptif, relevan, dan berdaya saing di era digital.