PATTANI, THAILAND — Menjadi mahasiswa Ilmu Hadis tidak selalu berarti mengabdi melalui kajian hadis. Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon juga dapat berkontribusi melalui bidang pendidikan. Hal tersebut dilakukan Diani Ardilia Fitriani dalam KKN Internasional UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Tahun 2026 di Thailand Selatan.
Diani merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin dan Adab. Ia menjalankan KKN Internasional bersama Ainul Hiyah, mahasiswi Jurusan Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK).
Keduanya ditempatkan di Phithaksast Anusorn School, Provinsi Pattani, Thailand, pada 11–24 Agustus 2026. Diani menangani siswa kelas 1–3, sedangkan Ainul Hiyah mendampingi siswa kelas 4–6.

Menyesuaikan Kontribusi dengan Kebutuhan Sekolah
Saat pertama tiba di sekolah, Diani menawarkan beberapa kemungkinan kontribusi sesuai latar belakang keilmuannya. Ia menyampaikan kesiapan untuk membantu bidang Ilmu Hadis, Al-Qur'an, atau bidang lain sesuai kebutuhan sekolah.
Setelah berdiskusi dengan jajaran guru dan kepala sekolah, pihak sekolah memberikan dua pilihan bidang pengajaran. Pilihan tersebut yaitu Bahasa Inggris dan Biologi.
Pada akhirnya, Diani dan Ainul Hiyah mendapat kepercayaan untuk mengajar Bahasa Inggris. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat menyesuaikan kebutuhan nyata sekolah mitra.
Menguatkan Pembelajaran Bahasa Inggris
Setiap hari, Diani mengajar siswa kelas 1 hingga kelas 3 menggunakan buku paket sekolah. Materi pembelajaran meliputi angka dan benda-benda di dalam kelas.
Selain itu, Diani mengajarkan ungkapan sederhana seperti How old are you? dan kalimat There are.... Ia juga menyampaikan materi tentang hari dan bulan.
Selanjutnya, proses pembelajaran berlangsung melalui berbagai aktivitas. Kegiatan tersebut meliputi work in pairs, ask and answer, listen and number, look and tick, serta trace and say.

Membangun Keberanian Siswa
Pada awal pembelajaran, sebagian siswa masih merasa malu berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Namun, antusiasme siswa perlahan tumbuh selama proses pembelajaran.
Siswa mulai berani merespons instruksi dan berbicara di depan kelas. Bahkan, mereka mulai berlomba mencoba menulis kosakata Bahasa Inggris di papan tulis.
Salah satu hal yang membuat Diani terkesan ialah kemampuan siswa mengeja angka satu hingga 20. Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan keberanian siswa dalam menggunakan Bahasa Inggris.
“Awalnya saya merasa bidang tersebut cukup jauh dari jurusan saya. Namun, saya memiliki basic yang cukup kuat untuk mengajar tingkat sekolah dasar dan menengah. Dari pengalaman ini saya sadar bahwa ilmu yang pernah kita pelajari tidak akan sia-sia dan suatu saat akan bermanfaat,” ungkap Diani.
Hadis yang Hidup dalam Keseharian Sekolah
Di balik tugas mengajar Bahasa Inggris, Diani menemukan sisi yang dekat dengan bidang keilmuannya. Phithaksast Anusorn School memiliki pembiasaan keislaman melalui program One Day One Hadith.
Setiap pagi, para guru bergantian membacakan satu hadis dari buku kumpulan hadis sekolah. Guru membacakan hadis dalam bahasa Arab dan memberikan terjemahan bahasa Thai.
Selain itu, guru memberikan refleksi mengenai penerapan pesan hadis dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa juga mengikuti dzikir pagi dan shalawat sebagai bagian dari pembiasaan keagamaan.
Sementara itu, siswa kelas 1 hingga kelas 6 mendapatkan pembelajaran hadis populer. Mereka juga menghafalkan sejumlah hadis bersama guru agama.

Nilai Ilmu Hadis Menjadi Bekal
Bagi Diani, tradisi tersebut memberikan pengalaman tersendiri. Ia datang dengan tugas utama mengajar Bahasa Inggris, tetapi menemukan ruang hadis dalam kehidupan sekolah.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengabdian Diani tetap memiliki hubungan dengan bidang keilmuannya. Nilai yang ia peroleh selama mempelajari Ilmu Hadis menjadi bekal dalam menjalankan proses pengajaran.
Diani juga menerapkan ketelitian dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Ia berusaha memastikan materi yang disampaikan benar dan mudah dipahami siswa.
“Selama belajar Ilmu Hadis, saya terbiasa untuk teliti dalam memahami sebuah informasi dan tidak langsung menerima sesuatu tanpa mengetahui sumbernya. Kebiasaan itu saya bawa ketika mengajar. Saya berusaha mempersiapkan materi dengan baik dan memastikan apa yang saya sampaikan kepada siswa benar dan mudah dipahami,” tutur Diani.
Dari Ruang Kelas Menuju English Festival
Proses pembelajaran kemudian berkembang menjadi kegiatan yang lebih besar. Bersama Ainul Hiyah, Diani menggagas English Festival dengan tema “Level Up Your English, Let Your Talent Shine”.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 di Phithaksast Anusorn School. Festival melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 6.
Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan tersebut mendorong kemampuan Bahasa Inggris siswa. Selain itu, festival melatih keberanian berbicara, public speaking, dan kreativitas.
Mendapat Kepercayaan dari Pihak Sekolah
Diani dan Ainul Hiyah menyusun konsep kegiatan dengan meminta masukan dari sejumlah guru. Pihak sekolah memberikan kepercayaan dalam menentukan pola latihan hingga susunan acara.
“Kami serahkan kepada adik bagaimana pola latihannya dan rundown saat acara berlangsung. Kami percayakan semuanya kepada adik. Jika ada beberapa anak yang kurang disiplin selama latihan maupun saat acara, kami juga memperkenankan adik untuk menegur dan mengarahkan mereka secara langsung,” ujar salah seorang pihak sekolah.
Persiapan festival berlangsung secara intensif. Konsep kegiatan mulai dimatangkan sekitar lima hari sebelum pelaksanaan.
Selanjutnya, siswa menjalani latihan selama empat hari berturut-turut. Diani menangani pendampingan siswa kelas 1–3 sesuai pembagian tugas.
Ketika Siswa Berani Tampil
Tantangan terbesar bukan hanya menyiapkan materi penampilan. Diani juga perlu membangun keberanian siswa yang belum terbiasa tampil di depan banyak orang.
Karena itu, latihan tidak hanya berfokus pada hafalan. Latihan juga mendorong siswa agar mampu tampil lebih percaya diri.
Guru-guru Phithaksast Anusorn School turut mendukung proses tersebut. Mereka membantu pendampingan siswa serta persiapan dekorasi dan kebutuhan kegiatan.
Dalam English Festival, seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 mendapat kesempatan tampil. Mereka menampilkan introduce myself, speech sederhana, menyanyi, hingga tari.
English Festival Tumbuhkan Kepercayaan Diri
Pelaksanaan kegiatan berlangsung lancar dan mendapat respons antusias dari siswa maupun guru. Para siswa menunjukkan keberanian menggunakan Bahasa Inggris di hadapan orang lain.
Bagi Diani, melihat siswa tampil di atas panggung memberikan kebanggaan tersendiri. Perubahan tersebut terlihat pada kemampuan Bahasa Inggris dan keberanian berkomunikasi.
Selain itu, beberapa siswa mulai menggunakan Bahasa Inggris secara spontan bersama mahasiswa KKN. Pihak sekolah juga memberikan apresiasi kepada mahasiswa atas kontribusinya dalam kegiatan pendidikan.
Dengan demikian, English Festival menjadi bukti bahwa proses pembelajaran dapat berkembang menjadi pengalaman bermakna. Siswa mendapat ruang untuk mempraktikkan kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri.

Ilmu Hadis dan Makna Beradaptasi
Pengalaman di Thailand membawa Diani pada pemahaman baru mengenai makna pengabdian. Ia menyadari bahwa mahasiswa perlu membaca kebutuhan lingkungan dan menyesuaikan diri.
“Menjadi mahasiswa Ilmu Hadis bukan berarti saya hanya bisa berkontribusi dalam hal-hal yang berkaitan langsung dengan hadis. Ketika berada di Thailand, saya justru dipercaya untuk mengajar Bahasa Inggris dan mendampingi anak-anak dalam proses belajar. Awalnya saya merasa bahwa bidang tersebut cukup jauh dari jurusan saya, tetapi dari pengalaman itu saya belajar bahwa ilmu juga membentuk cara kita bersikap, berkomunikasi, bersabar, dan memberikan manfaat,” ungkapnya.
Menurut Diani, mahasiswa Ilmu Hadis perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung menjadi salah satu nilai yang ia rasakan selama KKN Internasional.
Dari Hadis hingga English Festival
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa identitas sebagai mahasiswa Ilmu Hadis bukan batas ruang pengabdian. Nilai keilmuan dapat menjadi bekal untuk memasuki berbagai ruang kehidupan.
Dari One Day One Hadith hingga English Festival, Diani menemukan dua ruang yang sekilas berbeda. Namun, keduanya bertemu dalam satu tujuan, yaitu pendidikan dan kebermanfaatan.
KKN Internasional di Thailand akhirnya menjadi ruang bagi Diani untuk belajar dan berkontribusi. Ia membuktikan bahwa mahasiswa Ilmu Hadis mampu beradaptasi dan memberikan manfaat sesuai kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, ilmu tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama ketika diterapkan. Ilmu dapat hadir melalui kajian hadis, pembelajaran Bahasa Inggris, dan pengalaman mendampingi siswa.
Akhirnya, pengalaman Diani bersama Ainul Hiyah di Phithaksast Anusorn School menjadi bagian penting dari perjalanan KKN Internasional. Dari Thailand Selatan, keduanya membawa pengalaman, pembelajaran, dan semangat untuk terus memberikan manfaat melalui ilmu.